Friday, March 11, 2016

KADO DARI LANGIT


Saat itu bulan Ramadhan. Cuaca begitu panas membuat orang-orang malas keluar dari rumahnya. Terik matahari di siang hari menjilati kulit mereka yang menantangnya. Angin pun seakan ikut mengalah tak berdaya untuk berhembus. Seorang pria pulang ke rumah dengan sepeda motor yang diparkir di depan pintu masuk rumahnya. Pria yang memakai seragam kerja batik abu-abu ditutup jaket berwarna merah yang semakin memanaskan suasana. Suara dering handphone terus berbunyi dari kantong celananya tapi dia acuhkan karena sepeda motornya harus dia posisikan agar bisa dilalui orang yang mau masuk ke dalam rumahnya.
“Ah, ini rumah terlalu sempit. Kapan aku bisa punya rumah sendiri ya” ujar pria itu dengan sedikit senyum. Sang istri yang sedang hamil sembilan bulan sedang berbaring disamping pintu. Ya maklumlah kamar sempit di Jakarta ini walau harga yang relatif mahal masih diminati orang karena terdesak bukan karena suka. “Kurasa Jin pun enggan tinggal disini” kata si pria itu. Si istri masih tetap terdiam dan tak merespon. Badannya terasa sakit terlihat dari raut wajah yang kurang bersahabat.
Dua gelas air mineral langsung diteguk sambil berkata si pria  kepada  istrinya “ Masih sakit? Bagaimana kalo kita langsung ke bidan aja?” namun istrinya masih terdiam sambil mengusap perutnya yang di tutup oleh baju daster bercorak bunga berwarna biru. Baju itu yang dibelinya sewaktu berjalan-jalan ke tanah Abang. Si pria itu masih ingat sewaktu menemani istrinya berjalan –jalan ke tanah Abang. Niatnya bukan ingin berbelanja tapi memang dua sejoli ini dari dulu doyan jalan-jalan dengan kereta api kelas ekonomi. Banyak kehidupan sosial yang bisa diamati baik di kereta, sepanjang rel kereta, dan di pasar Tanah Abang.
Dulu di kampungnya orang-orang bercerita tentang indahnya Jakarta penuh dengan lampu-lampu yang menghiasi gedung-gedung pencakar langit sewaktu di malam hari. Tapi itu hanyalah cerita teman-temannya. Sekarang baru ia sadar jangan-jangan dulu teman-temannya itu juga belum pernah ke Jakarta. Ini dia sadari setelah melihat langsung kehidupan yang sebenarnya di ibu kota. Rumah-rumah yang berdiri dengan berdindingkan atap dari seng yang tua, berkarat, dan lapuk. Banyak sampah dan barang rongsokan yang menghiasi sekeliling nya. Tapi hebatnya mereka masih hidup. Ini yang membuat pria itu tetap merasa bersyukur walaupun tinggal di rumah kontrakan yang sepetak. Masih banyak orang-orang yang bernasib kurang beruntung daripada dia.
“Bang, mau di bidan mana?” si istri akhirnya bertanya setelah berusaha mengumpulkan tenaga untuk bersandar ke tembok kamar. Pria tadi pun akhirnya melepaskan lamunannya. “Ya udah,  kita coba lihat yang dekat-dekat sini aja dulu” dia menjawab istrinya sambil mengetik pesan ke nomor yang tadi menelpon berkali-kali tapi tak diangkatnya. Dia hanya menuliskan ‘tolong telpon balik’.  Ya telpon itu berasal dari tempat dia bekerja yang minta dia kembali segera karena ada pekerjaan mendadak. Tapi dia tak perduli. Istrinya yang sedang hamil besar dan diprediksi lahiran dalam waktu dekat lebih berarti daripada pekerjaan itu “Ah, ini lahiran anak pertamaku” ujarnya dalam hati.
Diambilnya kunci motor dan bergegas pergi melintasi gang-gang sekitar rumah untuk mencari dimana ada pamflet bertuliskan praktek bidan. Akhirnya ketemu juga. Sebuah rumah cukup besar bertingkat yang dijadikan tempat praktek bidan sekaligus tempat tinggal. Kembali dia pulang dan menghampiri istrinya sambil berkata” Uda ketemu, kemasi tas dan pakaianmu, ayo!” si pria tadi masih cemas kalo calon bayinya lahir seminggu lagi karena minggu depan itu sudah lebaran dan orang-orang pasti sibuk untuk urusan pulang kampung sebelum hari H.
Kecemasan tadi pun bersambut. Sang bidan mengatakan “lebih baik kita induksi ya kelahirannya” tapi pria itu dan istrinya kebingungan dan serentak bertanya sambil mengernyitkan dahi “Induksi itu apa bu?” wajah si istri semakin kelihatan tidak bersahabat karena cemas yang berlebihan. Namun dengan nada yang lembut si Bidan menjawab “ya nggak apa-apa kok” dia berusaha menenangkan. “Induksi itu proses sedikit mempercepat waktu kelahiran dari jadwal yang normal ya bisa satu hari atau dua hari lebih cepat” si pria itu sudah paham apa maksudnya namun si bidan tetap melanjutkan keterangannya “ Kalo menunggu dua hari lagi saya uda beli tiket kereta ke Jawa. Ini kan waktu-waktu orang mau pulang kampung. Kalo setuju, istrinya sudah bisa tinggal mulai saat ini disini. Kita kasih obat perangsang kelahirannya ya” ujar si bidan.
Si pria itu tidak punya pilihan. Dia tidak punya argumen lain. Dia tidak mau merepotkan saudara-saudaranya yang sibuk bekerja di luar kota. Orang tuanya pun sakit-sakitan sehinggah tidak bisa mengunjungi mereka di Jakarta. Mertuanya pun sama juga. “Ya, paling tidak aku masih punya Tuhan, istri, dan calon anakku disini. Aku harus tetap semangat” ujarnya dalam hati.
Pria itu pun bergegas pulang ke rumah untuk mengemasi perlengkapan lain untuk kelahiran seperti termos berisi air panas, kain sarung, dan sedikit biskuit. Dia sudah terbiasa dengan keadaan mandiri dari sejak kecil. Almarhum ibunya dulu sangat disiplin mendidik kelima anak-anaknya. Maklumlah beliau bekerja sebagai guru SD yang sekolahnya berjarak kurang lebih 10 km dari rumah kediaman mereka. Jadi, semua harus bangun setiap pagi jam 5.00, shalat , dan membantu pekerjaan rumah. Ada yang mencuci piring, menyapu rumah, menyapu halaman, dan membantu menanak nasi dan air untuk minum. Ibu mereka memasak lauk dan sayur untuk sarapan. Pria tadi yang merupakan anak pertama di keluarga itu benar-benar terlatih menjadi pemimpin adik-adiknya.
Segera ia bergegas ke klinik bidan tadi dan menghampiri istrinya yang sudah terkujur lemas di atas kasur persalinan. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Tak lupa ia mengeluarkan Alquran dari kantong plastik yang ia bawa tadi untuk diletakkan di atas rak samping tempat tidur. Ya kitab suci itulah yang menguatkan dirinya untuk tetap tegar dan sabar akan keadaan hidup ini. Dia yakin Tuhannya tidak akan pernah meninggalkannya.
Si pria tadi duduk di sebuah bangku plastik berwarna biru yang disediakan disamping tempat tidur. Ya kamarnya juga tidak luas, hanya bisa di tempati empat orang dalam keadaan duduk dengan si pasien berbaring di tempat tidur. Tapi tempat itu cukup layak lah untuk orang berekonomi pas-pasan  seperti dia. Sepreinya bersih, kamarnya bercat putih terang dan Bidan serta perawatnya juga ramah.
Jam berjalan terus, waktu shalat magrib pun tiba. Pria itu bangkit dari bangkunya dan melihat si istri yang merasa mulai kontraksi. “Kayaknya obat yang diberikan tadi mulai bereaksi ya” kata si pria itu. Tak banyak kata lagi yang dikeluarkan wanita itu. Mungkin dia juga tidak akan mendengarkan bicara suaminya. Dia sedang menahan sakit yang sangat perih sambil mengelus-elus perutnya. Pria itu hanya bisa berdoa dalam hati sambil memijit telapak kaki istrinya. Dia tak perduli lagi apakah istrinya mendengar atau tidak bicaranya, ia tutup kaki istrinya dengan selimut seraya berkata, “Aku mau shalat magrib dulu”.
Diambilnya air wudhu dekat kamar mandi, disamping kolam kecil yang ada tamannya. Taman yang seakan jadi surga bagi penghuni di tempat itu. Hanya taman itulah yang memberikan sedikit ketenangan jiwa ketika orang yang melintasinya memandangi bunga-bunga dalam pot yang sedang mekar dikelilingi ikan-ikan kecil dengan suara air mancur dari pompa listrik mini tertancap di dasar kolam. Begitu tenang rasanya berada di sana.
Segera setelah itu ia pun membentangkan sajadah menghadap kiblat di samping tempat tidur istrinya. Suara merintih kecil menahan sakit terus keluar dari mulut istrinya. Namun, shalat terus ia lakukan. Ia hanya berharap dan memohon agar Tuhan menjaga dan menuntun mereka di saat-saat genting seperti ini.
Tak terasa waktu shalat isya pun tiba. Sesekali sang bidan ditemani asistennya memeriksa kondisi si istri dan dengan lembutnya ia berusaha mengajak komunikasi pasiennya itu.
Suasana kembali hening. Tepat pukul 1.00 dini hari, kontraksi itu muncul lagi. Sesuai instruksi si bidan, pria itu mengetuk pintu kamar jaga si perawat yang berada disamping kamar persalinan istrinya. Bergegas wanita muda itu membenarkan posisi kerudungnya. Dengan mata yang masih kelihatan mengantuk ia masuk dan menghampiri si istri. Namun sayangnya, proses kelahiran belum juga menampakkan hasil. Pria itu hanya disuruh untuk memijit kaki istrinya agar lebih tenang. Perlahan, rasa sakit pun mulai mereda. Si perawat hanya berpesan untuk memanggilnya jika kontraksi hebat datang lagi.
Pukul 3.00 kontraksi hebat itu benar datang lagi, tapi pria itu kembali memijit kaki istrinya, “Ah, nanti juga akan reda lagi, kok” katanya dalam hati. Dia juga tidak merasa enak membangunkan perawat yang kelihatannya sangat capek dan ngantuk. Benar saja, rasa sakit kontraksi itu mereda lagi. Tapi terus ia berdoa dan sesekali membaca ayat-ayat Alquran disamping istrinya sampai waktu shalat subuh tiba. Kemudian ia pun bergegas mengambil air wudhu dan melakukan shalat.
Tanpa sadar, si pria itu terbangun dari tidurnya di atas sajadah. Suara lalu lalang orang membuat dirinya kaget ada apa gerangan. Jam tangan menunjukkan pukul 06.30. Ia melihat istrinya sedang tertidur pulas. “Syukurlah” ucapnya dalam hati. Pelan-pelan ia membuka pintu dan melihat keluar. Ternyata ada pasien lain yang mau melahirkan dan sedang dibopong ke kamar sebelah. Dia kembali ke dalam kamar dan duduk di atas bangku plastik. Selera makannya hilang, ia hanya ambil dua potong biskuit dan meminum hampir seperempat botol ukuran 2 liter air mineral. Ya orangtuanya selalu ingatkan untuk minum air yang banyak jika ingin sehat. Nasihat itu tetap ia ingat.
“Assalamu alaikum” terdengar suara dari luar pintu. Namun orang itu langsung masuk ke dalam kamar. Ya bidan tadi datang dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya karena baru selesai mandi dan keramas disusul oleh perawatnya yang membawakan sepiring bubur untuk sarapan pasien. “Bagaimana istrinya, mas? Belum ya?” Tanya si bidan. “Ya bu, belum ada tanda” jawab pria itu. Segera setelah mengecek kondisi istrinya yang lagi tidur, si bidan pun membuat pernyataan yang agak mengejutkannya, “Mas, kalo belum juga lahiran sampai besok pagi, kita rujuk ke puskesmas di Pulogadung ya” kata si bidan. Pria itu tetap diam dan agak melongo ke wajah si bidan. Bidan itu pun melanjutkan bicaranya, “ Soalnya, saya dan keluarga sudah beli tiket kereta ke Jawa untuk jam 08.00 pagi besok”. Pria itu hanya bisa mengangguk pelan dan tetap terdiam. Dalam hatinya ia berucap, “Nak, kapan sih kamu keluar?”
Waktu berjalan seperti biasa. Kontraksi ringan mengiringi tidur si istri. Ditinggalkannya istrinya di dalam kamar sendirian untuk menghirup udara pagi yang bersih. Tapi pikirannya masih bergelayut. Pertama, jarak puskesmas yang dirujuk itu cukup jauh dari rumah, “Bagaimana membawa orang yang dalam keadaan kontraksi seperti itu kesana? Bukankah biaya tambah lagi? Aduh nak, cepat keluarlah” ujarnya dalam hati. Kedua, dia belum tentu bisa mendapatkan pelayanan hebat orang-orang disana seperti yang dia rasakan saat ini. Dengan kedua tangan menengadah ke atas ia memohon pada Tuhannya, “Ya, Allah…bantu hambaMu ini…”
Magrib dan isya pun berlalu. Tidak ada momen penting yang perlu dicatat. Di waktu yang sama seperti tadi malam, yaitu pukul 01.00 dini hari, kontraksi hebat datang lagi tapi rasa sakitnya lebih hebat dari yang tadi malam. Tak mau ambil resiko pria itu mengetuk pintu kamar yang jaga disamping. Ternyata yang berada di kamar itu adalah si bidan. Mungkin ia beri waktu pada perawatnya untuk tidur di kamar lain. Ya bidan itu memiliki rumah bertingkat dan cukup luas untuk dijadikan sebagian tempatnya menjadi klinik persalinan. Dengan sigap si bidan berjalan ke kamar pasien sambil mengeluarkan handphone nya karena ada suara dering telepon yang berbunyi seraya ia menjawab “ Halo Dok, jadi mau kesini?. OK, Dok terima kasih”. Langsung dia matikan panggilannya.
Ternyata proses kelahiran induksi itu membutuhkan tenaga yang lebih ahli yaitu dokter kandungan. Semakin berkurang rasa cemas si pria itu setelah ia tahu dokter itu akan tiba.
Ya seperti biasa lagi. Kontraksi hebat itu pun mereda lagi setelah kaki si istri dipijit. Sang bidan memeriksa ke arah si calon bayi akan keluar, “Ya, gak lama lagi kok” katanya. Tak lama berselang, si dokter pun tiba. Seorang pria paruh baya, dengan sebuah stetoskop dikalungkan di lehernya, berjalan dan menyapa “ Assalamualaikum” dengan nada pelan. Semua pun menjawab “Wa’alaikumsalam”. Si dokter melihat daftar catatan yang diberikan si perawat. Dia pun hanya mengangguk kecil saja.
Si istri tidur lagi karena kecapekan merintih. Perlahan, si bidan pun keluar dan berkata pada si dokter “ Ini malam ganjil di minggu terakhir ramadhan. Kayaknya beda ya, cuacanya”. Memang cuaca saat itu berbeda dengan malam sebelumnya. Tidak ada hujan tapi terasa dingin sejuk sekali. Si dokter menjawab, “Ya mungkin hari ini malam lailatul qadar”. Si bidan berkata “Ya saya shalat dulu lah”. Bidan itu keluar disusul si dokter yang memeriksa pasien di kamar sebelah.
Pria itu pun bergegas juga keluar mengambil air wudhu untuk shalat sunnah. Dalam shalat ia juga meminta agar dimudahkan jalan kelahiran anak pertamanya.
Jam 04.00 kontraksi sehebat-hebatnya datang diiringi teriakan si istri menahan rasa sakit yang sangat perih. Belum sempat si pria itu memanggil bidan, si bidan sudah menuju depan pintu bersama dengan perawatnya. Berdua mereka mendorong tempat tidur yang beroda  itu ke kamar yang ketiga. Ternyata dokter tadi sudah menunggu dengan mempersiapkan  alat-alat persalinannya. Pria itu semakin panik dan cemas terlebih setelah melihat alat-alat bedah yang disiapkan si dokter. Setelah sampai di kamar si dokter, si pria tadi tetap menggenggam tangan istrinya. Sebenarnya pria itu tidak kuat untuk melihat proses persalinan istrinya. Cukup mengerikan baginya. Dia hanya menenangkan dan memberi semangat istrinya tapi sesekali ia penasaran melihat proses kerja si dokter. Turut juga si bidan memberi semangat dan memberi instruksi gerakan kepada si istri untuk diikuti agar prosesnya lancar. Di sudut yang lain, si perawat sibuk mempersiapkan bak mandi plastik yang diisi air hangat untuk mandi si bayi.
Tiga puluh menit berlalu, suara azan pun terdengar “Allahu akbar, Allahu akbar..”. Seiring suara azan shalat subuh berkumandang dengan keras, si bayi pun keluar meluncur dari rahim ibunya. Pria itu memanjatkan syukur “Alhamdulilah ya Allah” semua juga ikut mengucapkan syukur termasuk istrinya. Bayi laki-laki itu telungkup. Kulitnya yang putih bersih tanpa noda dengan tatapan matanya mengarah pada Bapaknya. “Maha kuasa Engkau ya Allah” ucap si pria itu. Berkali-kali ia mengucapkan itu.
Rasa cemas tadi pun berangsur pulih. Teringat ia pada almarhum ibunya. “Ternyata beginilah saya dulu dilahirkan” ucapnya dalam hati. “Maafkan aku ibu” ujarnya pelan. Teringat ia akan dosa-dosa yang sengaja ia lakukan semasa hidup ibunya.
Setelah tali pusar dipotong, si perawat memandikan bayi itu kemudian diserahkan pada si bidan untuk di pasangi selimut bayi, sarung tangan dan kaki yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh pria tadi. Selanjutnya dia pun membacakan azan di telinga bayi mungilnya.
Disalaminya si bidan, perawat dan dokter di kamar itu. Ungkapan rasa terima kasih sebesar-besarnya dia ucapkan atas bantuan mereka selama 3 hari di klinik itu. Benar-benar ini Ramadhan yang paling indah baginya. Kado di bulan Ramadhan yang tiada tara dari sang Ilahi. Kado dari langit yang turun di bulan itu. Benar-benar Tuhan tidak akan tinggalkan hambaNya. Takkan pernah. “Allah Maha Penyayang” ujarnya dalam hati sambil memandang mata si buah hatinya. Berharap ia agar anaknya juga yakin dengan itu.