Dalam
belajar bahasa Inggris khususnya untuk belajar percakapan tidak cukup hanya
dengan penguasaan kosa kata (glossary), pengucapan (pronunciation) dan juga
tata bahasa (grammar) yang dasar. Ada hal lain yang penting dan kadang luput
dari pikiran pelajar dan pengajar ketika terjadinya proses pembelajaran percakapan
tadi. Sebagai contoh, ada sebagian orang yang sudah mengusai kosa kata dan tahu
cara pengucapan yang benar untuk suatu topic pembicaraan tertentu. Namun, ketika
berbicara dengan orang lain mereka mengalami masalah dalam melanjutkan
percakapan karena lupa atau memang tidak tahu harus bagaimana selanjutnya. Hal
ini dapat menghambat kelancaran percakapan yang terjadi. Untuk menghindari itu,
diperlukan adanya suatu strategi yaitu Strategi Komunikasi. Strategi komunikasi
inilah yang akan dibahas dalam topic kali ini.
Strategi
Komunikasi adalah teknik verbal maupun non-verbal yang digunakan oleh pelajar bahasa asing/bahasa kedua baik si pembicara (speaker) dan lawan bicara (interlocutor) ketika
menghadapi “problem” dalam sebuah percakapan. Teknik verbal berarti menggunakan
bahasa lisan yang keluar dari mulut dan teknik non-verbal menggunakan
paralinguistic (isyarat dan mime). Sedangkan komunikasi adalah usaha yang
dilakukan oleh si pembicara dan lawan bicara untuk menyampaikan pesan yang
dapat dimengerti oleh kedua belah pihak dan percakapan merupakan satu contoh
komunikasi itu.
Ada
banyak istilah yang dipakai oleh pakar bahasa dalam mengidentifikasi
jenis-jenis strategi komunikasi, namun penulis lebih cenderung memakai istilah
dan jenis strategi komunikasi yang dirancang oleh Wannaruk (2003) setelah
memodifikasi strategi komunikasi yang disusun oleh Tarone, Bialystok, dan
Dornyei. Adapun, jenis strategi komunikasi ini dipilih karena gambaran dan
susunan strateginya lebih jelas. Wannaruk membagi strategi komunikasi itu ke dalam empat
bagian utama yaitu avoidance, L2-base, L1-base, paralinguistics, dan
modification device. Berikut adalah penjelasan mengenai strategi tersebut.
1. Avoidance
Strategi
ini dipakai ketika si pembicara tidak ingin melanjutkan suatu topic pembicaraan
dengan berbagai sebab. Strategi ini dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu:
a. Topic Avoidance
Strategi
ini dipakai ketika si pembicara menghindari topic yang tidak menarik atau tidak
dikuasai sehinggah dia khawatir dengan kemampuan bicaranya. Strategi ini
digunakan dengan cara mengganti topic yang lain yang lebih familiar
baginya. Adapun contoh ungkapan yang
sering dipakai adalah sebagai berikut: “I don’t like to talk about it…”. Dengan
keluarnya ungkapan tersebut dari si pembicara maka si lawan bicara seharusnya
mengerti bahwa partner bicara nya tidak nyaman dengan topic tersebut dan sebaiknya
mengganti topic pembicaraan dengan yang lain agar terjalin percakapan yang
baik.
b. Message avoidance
Strategi
ini dipakai ketika si pembicara berusaha menggunakan beberapa kata untuk
menjelaskan pesannya kepada lawan bicara namun karena kemampuan bahasanya yang
terbatas akhirnya dia menyerah dengan menggunakan cara “pausing” agak lama atau
menggunakan ungkapan “I don’t know” di akhir kalimatnya. Dengan strategi ini,
si lawan bicara sebaiknya mengganti topic baru atau menggunakan strategi lain
dalam pembahasan kali ini.
2. L2-based
Ada
3 jenis strategi yang termasuk ke dalam kategori ini. Ketiga jenis strategi ini
adalah strategi yang seharusnya dominan digunakan dalam mempelajari percakapan
bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Semakin banyak strategi ini digunakan
dibanding strategi lain maka semakin cepat kemajuan belajar percakapan yang
akan dicapai. Ketiga strategi itu adalah sebagai berikut:
a. Approximation
Strategi
ini dilakukan dengan cara mencari kata lain yang konsepnya mirip dengan kata
yang menjadi target walaupun kurang atau tidak tepat “sense of meaning”nya.
Contoh: “old object” untuk menggantikan “antique”. Si pembicara mungkin lupa atau
tidak tahu kata “antique” tetapi dia berusaha mencari konsep yang sama dengan
kata tersebut. Contoh lain adalah ketika si pembicara mengatakan “I will spend my holiday at house but it's…
it's not productive”. Kata“stagnant” lebih tepat penggunaannya daripada
“not productive” untuk situasi bahwa si pembicara tidak memiliki aktivitas yang
menarik ketika menikmati liburannya. Memang hal ini dapat menyebabkan pelajar
level menengah bisa salah paham dengan apa yang dimaksud tetapi strategi ini
dapat membantu menghindari terjadinya “breakdown” dalam percakapan.
b. Circumlocution
Penggunaan
kata yang berlebihan untuk menyamakan konsep dengan kata yang menjadi target
adalah ciri khas strategi ini. Contoh: Kalimat “I think the film was very cool but the duration is too long. Three
hours in cinema and you are sitting….so….” adalah bentuk circumlocution
untuk menujukkan kata “monotonous”. Selama masih dapat dimengerti, strategi ini
dapat membantu pelajar dalam belajar percakapan.
c. Appeal
Appeal
adalah jenis strategi yang meminta bantuan kepada lawan bicara baik secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung seperti penggunaan pertanyaan “what
is this?”. Sedangkan tidak langsung dengan cara penggunaan “disfluency marker”
atau penanda ketidaklancaran. Contoh nya adalah jedah yang diikuti oleh
intonasi yang agak tinggi. Si A
berbicara “Lucy works at hospital. She
gets in touch with patients’ eyes” kemudian si B merespon dengan kalimat “So, she is…..↑” dengan intonasi tinggi
di akhir kalimat menunjukkan bahwa dia butuh bantuan dari si A untuk mencari
kosa kata dokter mata dalam bahasa Inggris. Pada akhirnya si A menjawab “yes, she is an ophthalmologist”.
3. L1-base
Jenis
strategi ini dilakukan dengan berusaha menyesuaikan bahasa Indonesia ke dalam
bahasa Inggris. Penggunaan strategi untuk pelajar-pelajar level bawah mungkin
tidak menjadi masalah selama strategi ini masih dapat membantu terjalinnya
percakapan ketika mereka belajar speaking. Adapun strategi ini dibagi menjadi
dua bagian yaitu:
a. Language Switching
Strategi
ini menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia dalam percakapan untuk
menunjukkan bahasa targetnya yaitu bahasa Inggris. Biasanya karena kemampuan
bahasa yang masih kurang memicu penggunaan strategi ini. Contoh penggunaannya
adalah serbet untuk menunjukkan “napkin”.
b. Foreignizing
Untuk
strategi ini, si pembicara menyesuaikan bahasa ibu menurut suku kata dan
pengucapan ke dalam bahasa Inggris. Contoh:
Si pembicara tidak mengetahui kata” tap” untuk menunjukkan kran air
tetapi dia menggunakan “kran” tadi dengan pengucapan “kren” seakan-akan kata
tersebut adalah kata dalam bahasa Inggris.
4. Paralinguistics
Strategi ini termasuk
strategi strategi non-verbal yang terdiri dari dua jenis strategi sebagai
berikut:
a. Gesture
Gesture
adalah penggunaan isyarat seperti expresi wajah atau menggelengkan kepala untuk
menunjukkan bahwa si pembicara tidak mengerti akan pesan yang disampaikan oleh
si lawan bicara. Hal ini sederhana, namun dapat membantu si lawan bicara untuk mencari
strategi lain agar pesan lebih dapat dimengerti.
b. Mime
Mime
adalah penggunaan gesture (isyarat) yang disertai dengan suara yang keluar
secara spontan. Contoh: Si pembicara mengatakan “ I see the fireworks boom boom boom. Dalam kalimat ini si
pembicara ingin mengucapkan kata “explode” untuk menunjukkan ledakan tetapi dia
tidak tahu akan kosa kata itu sehinggah dia membuat isyarat dengan tangannya
disertai dengan suara “boom boom boom” yang keluar dari mulutnya secara
bersamaan.
5. Modification Device
Modification
device ini terdiri dari comprehension check, clarification request, backchannel
cues, self-repair, confirmation check, dan pausing. Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut:
a. Comprehension Check
Penggunaan
ungkapan “right?”, “do you understand?”, “OK?” ataupun tag question adalah
contoh strategi ini. Hal ini untuk meyakinkan si pembicara apakah lawan bicara
sudah paham atau tidak. Bisa dibayangkan bila si pembicara terus berbicara
namun si lawan bicara tidak paham akan apa yang dibicarakan. Kemudian tidak ada
umpan balik yang diberikan oleh si lawan bicara sehinggah komunikasi pun tidak
terjadi. Oleh karena itu, mengecek apakah lawan bicara sudah mengerti atau
tidak dengan pesan yang disampaikan adalah penting dalam percakapan sehinggah
dapat dicari strategi lain untuk tetap menjalin percakapan yang baik.
b. Clarification Request
Meminta
si lawan bicara mengulangi pesan yang disampaikan untuk mendapatkan penjelasan
yang lebih adalah deskripsi dari jenis strategi komunikasi ini. Contohnya
adalah penggunaan ungkapan “what do you
mean?”, “pardon?”, “again, please?”, “what”, dan lain-lain. Tentunya masih
banyak contoh yang dapat dipelajari dari jenis strategi ini.
c. Backchannel Cues
Backchannel
Cues adalah penggunaan ungkapan singkat seperti “uh huh”, “yeah”, dan “right” yang
digunakan si pembicara bersamaan waktunya dengan pernyataan atau kalimat yang diucapkan oleh si lawan bicara untuk
menunjukkan bahwa si pembicara tetap mengikuti dan mengerti akan apa yang
disampaikan oleh si lawan bicara. Tanpa mengucapkan ungkapan singkat di atas
pun si pembicara mungkin sudah mengerti dan mengikuti pesan yang dimaksud oleh
lawan bicaranya. Namun, dengan ungkapan “uh huh” dan “yeah” ini akan memotivasi
si lawan bicara untuk tetap berbicara dan memiliki kepercayaan diri untuk
melanjutkan percakapan. Perlu diketahui, kepercayaan diri ini berbanding lurus
dengan kemajuan belajar speaking.
d. Self-Repair
Dalam
strategi ini si pembicara sadar kesalahan grammar yang dia buat dan dia
memperbaiki sendiri kesalahan itu untuk menghindari kesalah pahaman. Contoh: “
I go…..I went (yesterday)”
e. Confirmation Check
Confirmation
check adalah pengulangan kalimat, ungkapan, atau pun kata yang diucapkan oleh
si lawan bicara untuk memastikan pemahaman suatu pesan. Contohnya adalah si A
berkata “ She got thirty books last year” kemudian si B merespon dengan
ungkapan “thirty?” untuk memastikan bahwa yang dimaksud adalah benar menurut
pemahamannya. Bisa saja “thirty” itu terdengar sebagai “thirteen”. Jika dia
tidak mengkonfirmasi hal ini maka kesalahpahaman bisa terjadi yang pada
akhirnya akan mempengaruhi jalannya percakapan.
f. Pausing
Strategi ini terdiri dari “pause” (berhenti
sebentar) dan “pause filler” (pengisi jedah seperti “hmm”, “erh”, dan lain lain
yang digunakan untuk berpikir. Bagi pelajar pemula strategi ini bermanfaat
untuk belajar speaking tetapi untuk pelajar tingkat menengah ke atas, strategi
ini sebaiknya dihindari karena justru akan menghambat jalannya percakapan.
Bayangkan jika yang diajak berbicara adalah pelajar yang level percakapannya
menengah ke atas dan si pembicara banyak menggunakan strategi ini maka si lawan
bicara mungkin tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya.
Demikianlah
beberapa penjelasan tentang apa itu strategi komunikasi, jenis-jenisnya, dan bagaimana cara melakukannya. Semoga bermanfaat bagi pengajar dan pelajar dalam proses pembelajaran
percakapan. Walaupun masih perdebatan apakah strategi komunikasi ini perlu
dipelajari atau memang muncul sendiri ketika percakapan itu terjadi, namun
penulis yakin bahwa masih banyak pelajar yang belum tahu bahwa ada beberapa strategi
komunikasi yang bisa mereka gunakan dalam percakapan. Pengajar tentunya punya
peran tersendiri dalam menjadikan posisinya sebagai pembicara ataupun lawan
bicara kepada pelajarnya sehinggah strategi komunikasi antar kedua belah pihak
dapat dilatih terus menerus untuk kemajuan pembelajaran percakapan yang lebih
baik.
Reference
Wannaruk,
A. (2003). Communication strategies employed by EST students. SLLT (12), 1-18.
No comments:
Post a Comment