Friday, February 26, 2016

Strategi Hadapi "Problem" Percakapan Bahasa Inggris: Apa dan Bagaimana?

Dalam belajar bahasa Inggris khususnya untuk belajar percakapan tidak cukup hanya dengan penguasaan kosa kata (glossary), pengucapan (pronunciation) dan juga tata bahasa (grammar) yang dasar. Ada hal lain yang penting dan kadang luput dari pikiran pelajar dan pengajar ketika terjadinya proses pembelajaran percakapan tadi. Sebagai contoh, ada sebagian orang yang sudah mengusai kosa kata dan tahu cara pengucapan yang benar untuk suatu topic pembicaraan tertentu. Namun, ketika berbicara dengan orang lain mereka mengalami masalah dalam melanjutkan percakapan karena lupa atau memang tidak tahu harus bagaimana selanjutnya. Hal ini dapat menghambat kelancaran percakapan yang terjadi. Untuk menghindari itu, diperlukan adanya suatu strategi yaitu Strategi Komunikasi. Strategi komunikasi inilah yang akan dibahas dalam topic kali ini.
Strategi Komunikasi adalah teknik verbal maupun non-verbal yang  digunakan oleh pelajar bahasa asing/bahasa kedua baik si pembicara (speaker) dan lawan bicara (interlocutor) ketika menghadapi “problem” dalam sebuah percakapan. Teknik verbal berarti menggunakan bahasa lisan yang keluar dari mulut dan teknik non-verbal menggunakan paralinguistic (isyarat dan mime). Sedangkan komunikasi adalah usaha yang dilakukan oleh si pembicara dan lawan bicara untuk menyampaikan pesan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak dan percakapan merupakan satu contoh komunikasi itu.
Ada banyak istilah yang dipakai oleh pakar bahasa dalam mengidentifikasi jenis-jenis strategi komunikasi, namun penulis lebih cenderung memakai istilah dan jenis strategi komunikasi yang dirancang oleh Wannaruk (2003) setelah memodifikasi strategi komunikasi yang disusun oleh Tarone, Bialystok, dan Dornyei. Adapun, jenis strategi komunikasi ini dipilih karena gambaran dan susunan strateginya lebih jelas. Wannaruk membagi strategi komunikasi itu ke dalam empat bagian utama yaitu avoidance, L2-base, L1-base, paralinguistics, dan modification device. Berikut adalah penjelasan mengenai strategi tersebut.

1. Avoidance

Strategi ini dipakai ketika si pembicara tidak ingin melanjutkan suatu topic pembicaraan dengan berbagai sebab. Strategi ini dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu:

a. Topic Avoidance

Strategi ini dipakai ketika si pembicara menghindari topic yang tidak menarik atau tidak dikuasai sehinggah dia khawatir dengan kemampuan bicaranya. Strategi ini digunakan dengan cara mengganti topic yang lain yang lebih familiar baginya.  Adapun contoh ungkapan yang sering dipakai adalah sebagai berikut: “I don’t like to talk about it…”. Dengan keluarnya ungkapan tersebut dari si pembicara maka si lawan bicara seharusnya mengerti bahwa partner bicara nya tidak nyaman dengan topic tersebut dan sebaiknya mengganti topic pembicaraan dengan yang lain agar terjalin percakapan yang baik.

 b. Message avoidance

Strategi ini dipakai ketika si pembicara berusaha menggunakan beberapa kata untuk menjelaskan pesannya kepada lawan bicara namun karena kemampuan bahasanya yang terbatas akhirnya dia menyerah dengan menggunakan cara “pausing” agak lama atau menggunakan ungkapan “I don’t know” di akhir kalimatnya. Dengan strategi ini, si lawan bicara sebaiknya mengganti topic baru atau menggunakan strategi lain dalam pembahasan kali ini.

2. L2-based

Ada 3 jenis strategi yang termasuk ke dalam kategori ini. Ketiga jenis strategi ini adalah strategi yang seharusnya dominan digunakan dalam mempelajari percakapan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Semakin banyak strategi ini digunakan dibanding strategi lain maka semakin cepat kemajuan belajar percakapan yang akan dicapai. Ketiga strategi itu adalah sebagai berikut:

a. Approximation

Strategi ini dilakukan dengan cara mencari kata lain yang konsepnya mirip dengan kata yang menjadi target walaupun kurang atau tidak tepat “sense of meaning”nya. Contoh: “old object” untuk menggantikan “antique”. Si pembicara mungkin lupa atau tidak tahu kata “antique” tetapi dia berusaha mencari konsep yang sama dengan kata tersebut. Contoh lain adalah ketika si pembicara mengatakan “I will spend my holiday at house but it's… it's not productive”. Kata“stagnant” lebih tepat penggunaannya daripada “not productive” untuk situasi bahwa si pembicara tidak memiliki aktivitas yang menarik ketika menikmati liburannya. Memang hal ini dapat menyebabkan pelajar level menengah bisa salah paham dengan apa yang dimaksud tetapi strategi ini dapat membantu menghindari terjadinya “breakdown” dalam percakapan.

b.  Circumlocution

Penggunaan kata yang berlebihan untuk menyamakan konsep dengan kata yang menjadi target adalah ciri khas strategi ini. Contoh: Kalimat “I think the film was very cool but the duration is too long. Three hours in cinema and you are sitting….so….” adalah bentuk circumlocution untuk menujukkan kata “monotonous”. Selama masih dapat dimengerti, strategi ini dapat membantu pelajar dalam belajar percakapan.

c. Appeal

Appeal adalah jenis strategi yang meminta bantuan kepada lawan bicara baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung seperti penggunaan pertanyaan “what is this?”. Sedangkan tidak langsung dengan cara penggunaan “disfluency marker” atau penanda ketidaklancaran. Contoh nya adalah jedah yang diikuti oleh intonasi yang agak tinggi.  Si A berbicara “Lucy works at hospital. She gets in touch with patients’ eyes” kemudian si B merespon dengan kalimat “So, she is…..↑” dengan intonasi tinggi di akhir kalimat menunjukkan bahwa dia butuh bantuan dari si A untuk mencari kosa kata dokter mata dalam bahasa Inggris. Pada akhirnya si A menjawab “yes, she is an ophthalmologist”.

3. L1-base

Jenis strategi ini dilakukan dengan berusaha menyesuaikan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Penggunaan strategi untuk pelajar-pelajar level bawah mungkin tidak menjadi masalah selama strategi ini masih dapat membantu terjalinnya percakapan ketika mereka belajar speaking. Adapun strategi ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Language Switching

Strategi ini menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia dalam percakapan untuk menunjukkan bahasa targetnya yaitu bahasa Inggris. Biasanya karena kemampuan bahasa yang masih kurang memicu penggunaan strategi ini. Contoh penggunaannya adalah serbet untuk menunjukkan “napkin”.

b. Foreignizing

Untuk strategi ini, si pembicara menyesuaikan bahasa ibu menurut suku kata dan pengucapan ke dalam bahasa Inggris. Contoh:  Si pembicara tidak mengetahui kata” tap” untuk menunjukkan kran air tetapi dia menggunakan “kran” tadi dengan pengucapan “kren” seakan-akan kata tersebut adalah kata dalam bahasa Inggris.

4. Paralinguistics

Strategi ini termasuk strategi strategi non-verbal yang terdiri dari dua jenis strategi sebagai berikut:

a. Gesture

Gesture adalah penggunaan isyarat seperti expresi wajah atau menggelengkan kepala untuk menunjukkan bahwa si pembicara tidak mengerti akan pesan yang disampaikan oleh si lawan bicara. Hal ini sederhana, namun dapat membantu si lawan bicara untuk mencari strategi lain agar pesan lebih dapat dimengerti.

b. Mime

Mime adalah penggunaan gesture (isyarat) yang disertai dengan suara yang keluar secara spontan. Contoh: Si pembicara mengatakan “ I see the fireworks boom boom boom. Dalam kalimat ini si pembicara ingin mengucapkan kata “explode” untuk menunjukkan ledakan tetapi dia tidak tahu akan kosa kata itu sehinggah dia membuat isyarat dengan tangannya disertai dengan suara “boom boom boom” yang keluar dari mulutnya secara bersamaan.

5. Modification Device

Modification device ini terdiri dari comprehension check, clarification request, backchannel cues, self-repair, confirmation check, dan pausing. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

    a. Comprehension Check

Penggunaan ungkapan “right?”, “do you understand?”, “OK?” ataupun tag question adalah contoh strategi ini. Hal ini untuk meyakinkan si pembicara apakah lawan bicara sudah paham atau tidak. Bisa dibayangkan bila si pembicara terus berbicara namun si lawan bicara tidak paham akan apa yang dibicarakan. Kemudian tidak ada umpan balik yang diberikan oleh si lawan bicara sehinggah komunikasi pun tidak terjadi. Oleh karena itu, mengecek apakah lawan bicara sudah mengerti atau tidak dengan pesan yang disampaikan adalah penting dalam percakapan sehinggah dapat dicari strategi lain untuk tetap menjalin percakapan yang baik.

b. Clarification Request

Meminta si lawan bicara mengulangi pesan yang disampaikan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih adalah deskripsi dari jenis strategi komunikasi ini. Contohnya adalah  penggunaan ungkapan “what do you mean?”, “pardon?”, “again, please?”, “what”, dan lain-lain. Tentunya masih banyak contoh yang dapat dipelajari dari jenis strategi ini.

c. Backchannel Cues

Backchannel Cues adalah penggunaan ungkapan singkat seperti “uh huh”, “yeah”, dan “right” yang digunakan si pembicara bersamaan waktunya dengan pernyataan atau kalimat  yang diucapkan oleh si lawan bicara untuk menunjukkan bahwa si pembicara tetap mengikuti dan mengerti akan apa yang disampaikan oleh si lawan bicara. Tanpa mengucapkan ungkapan singkat di atas pun si pembicara mungkin sudah mengerti dan mengikuti pesan yang dimaksud oleh lawan bicaranya. Namun, dengan ungkapan “uh huh” dan “yeah” ini akan memotivasi si lawan bicara untuk tetap berbicara dan memiliki kepercayaan diri untuk melanjutkan percakapan. Perlu diketahui, kepercayaan diri ini berbanding lurus dengan kemajuan belajar speaking.

d. Self-Repair

Dalam strategi ini si pembicara sadar kesalahan grammar yang dia buat dan dia memperbaiki sendiri kesalahan itu untuk menghindari kesalah pahaman. Contoh: “ I go…..I went (yesterday)”

e. Confirmation Check

Confirmation check adalah pengulangan kalimat, ungkapan, atau pun kata yang diucapkan oleh si lawan bicara untuk memastikan pemahaman suatu pesan. Contohnya adalah si A berkata “ She got thirty books last year” kemudian si B merespon dengan ungkapan “thirty?” untuk memastikan bahwa yang dimaksud adalah benar menurut pemahamannya. Bisa saja “thirty” itu terdengar sebagai “thirteen”. Jika dia tidak mengkonfirmasi hal ini maka kesalahpahaman bisa terjadi yang pada akhirnya akan mempengaruhi jalannya percakapan.
  

f. Pausing

Strategi ini terdiri dari “pause” (berhenti sebentar) dan “pause filler” (pengisi jedah seperti “hmm”, “erh”, dan lain lain yang digunakan untuk berpikir. Bagi pelajar pemula strategi ini bermanfaat untuk belajar speaking tetapi untuk pelajar tingkat menengah ke atas, strategi ini sebaiknya dihindari karena justru akan menghambat jalannya percakapan. Bayangkan jika yang diajak berbicara adalah pelajar yang level percakapannya menengah ke atas dan si pembicara banyak menggunakan strategi ini maka si lawan bicara mungkin tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya.

Demikianlah beberapa penjelasan tentang apa itu strategi komunikasi, jenis-jenisnya, dan bagaimana cara melakukannya. Semoga bermanfaat bagi pengajar dan pelajar dalam proses pembelajaran percakapan. Walaupun masih perdebatan apakah strategi komunikasi ini perlu dipelajari atau memang muncul sendiri ketika percakapan itu terjadi, namun penulis yakin bahwa masih banyak pelajar yang belum tahu bahwa ada beberapa strategi komunikasi yang bisa mereka gunakan dalam percakapan. Pengajar tentunya punya peran tersendiri dalam menjadikan posisinya sebagai pembicara ataupun lawan bicara kepada pelajarnya sehinggah strategi komunikasi antar kedua belah pihak dapat dilatih terus menerus untuk kemajuan pembelajaran percakapan yang lebih baik.


Reference
Wannaruk, A. (2003). Communication strategies employed by EST students. SLLT (12), 1-18.


No comments:

Post a Comment